
SMA Laboratorium UPGRIS kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya sadar bencana melalui pelaksanaan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa magang kependidikan Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) sebagai bagian dari penguatan implementasi pendidikan kebencanaan di lingkungan sekolah.
Program SPAB ini dilaksanakan sebagai upaya sistematis dalam meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah terhadap potensi bencana, baik bencana alam maupun non-alam. Dalam kegiatan tersebut, BPBD Jawa Tengah memberikan edukasi terkait mitigasi bencana, prosedur evakuasi, serta simulasi tanggap darurat yang diikuti secara antusias oleh siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Mahasiswa magang kependidikan UPGRIS berperan aktif dalam mendampingi jalannya kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mereka turut membantu dalam penyusunan media pembelajaran, fasilitasi diskusi, serta pendampingan siswa saat simulasi berlangsung. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat efektivitas penyampaian materi kebencanaan kepada siswa.
Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Melalui pendekatan partisipatif dan kontekstual, siswa diharapkan mampu memahami risiko bencana di lingkungan sekitarnya serta memiliki keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala SMA Laboratorium UPGRIS Nor Khoiriyah, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam menciptakan sekolah yang tangguh bencana. “Melalui program SPAB, kami ingin membangun kesadaran kolektif seluruh warga sekolah agar lebih siap dan sigap dalam menghadapi potensi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, pihak BPBD Jawa Tengah mengapresiasi keterlibatan mahasiswa magang yang dinilai mampu menjadi agen perubahan dalam menyebarluaskan edukasi kebencanaan di lingkungan pendidikan. Sinergi antara sekolah, lembaga penanggulangan bencana, dan perguruan tinggi ini diharapkan dapat menjadi model implementasi pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan.
Dengan semangat “Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan,” kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya bencana.
